OUR COMPLICATED MARRIAGE (CHAPTER 17)

 

our-complicated-marriage-3

Title : Our Complicated Marriage

Author : WonA

Genre : Drama Romance, Married Life

Length : Chapter, Longshoot

Rating : PG 17

Casts : Cho Kyuhyun – Park Hyowon – Lee Donghae – Lee Hyukjae – Yoon Soojin – Byun Baekhyun – Park Wonho – Henry Lau and Other Casts.

Disclaimer : This Story of Fanfiction is pure of my imagination, the casts belongs themselves, don’t ‘copas’, and don’t bash!

 

Happy Reading … Typo is Magic!

 

Preview Chapter 16 …

“Jungsu Hyung, aku sangat membutuhkannya. Jangan pisahkan-“

 

“Aku tidak main-main dengan ucapanku, Cho Kyuhyun! bahkan tanganku merasa sangat gatal ingin memukulmu, dasar brengsek!” Jungsu memang sudah mengepalkan tangannnya sangat erat, ia menahan emosinya yang meninggi sejak melihat berita sialan itu.

 

 “Pukul aku Hyung! Tapi jangan pernah membawanya pergi dariku!”

Jungsu memanas, Kyuhyun benar-benar tidak tahu diri. Jika dia sangat membutuhkan istrinya mengapa harus menyakitinya? Gerakan tangan yang bersiap untuk memukul wajah tampan yang kacau itu terhenti saat Hyowon melepaskan genggaman Kyuhyun pada tangannya.

 

Sejak awal Hyowon memutuskan untuk tidak ingin memberikan respon apapun, hati dan tubuhnya sungguh sangat lelah dan muak terhadap Cho Kyuhyun. namun hatinya tidak bisa membiarkan pria yang ia cintai harus mendapat pukulan dari kakak laki-lakinya. Setelah apa yang dilakukan Kyuhyun padanya, Hyowon masih saja memperdulikan suami tampannya itu.

 

“Oppa, ayo kita pulang!” Ucap Hyowon dengan senyuman yang tak bercahaya, seperti bunga yang layu dan mengering.

 

“Hyowon-ah, jebal…” Kyuhyun memohon dan berusaha untuk menahan istrinya pergi. Ia sungguh ketakutan saat ini. Bayangan akan perpisahaannya itu benar-benar seperti nyata seolah ia akan menghadapi hal itu.

 

Hyowon hanya menepis tangan Kyuhyun yang hendak menyentuhnya, ia berjalan bersama kakak dan adiknya dengan lemah. Membiarkan Kyuhyun berdiri menatap punggungnya dengan air mata yang memenuhi rongga dadanya, sesak sekali!

 

Chapter 17 Story Begin . . .

 

Kyuhyun melangkahkan kakinya memasuki rumah besarnya yang terasa lebih luas, hampa dan sangat dingin. Ia mendudukan tubuhnya di sofa sekaligus menghempaskan perasaan ketidakberdayaannya. Ketakutan menyelimutinya, seakan menjadi bayang-bayang yang tak pernah hilang setiap hembusan nafasnya.

 

Donghae dan Hyukjae mendekati pria yang dirasa akan kehilangan status pernikahaannya itu dengan wajah simpati. Mereka berdua juga tidak tahu harus berbuat apa, ini masalah atau bahkan kesalahpahaman diantara hubungan suami istri. Mereka juga tidak bisa memihak siapapun, entah siapa yang benar, ataupun yang melakukan kesalahan. Ini benar-benar membuat keduanya keliru dan tidak mampu mengambil keputusan dengan mudah.

 

“Kau harus lebih bersabar, kurasa Hyowon juga membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya sendiri.” Ucap Donghae berusaha memberi nasehat senetral mungkin. Sebenarnya ia juga ingin sedikit memaki Sang Presiden Direktur itu karena terlalu peduli pada mantan kekasihnya itu. Mau bagaimana lagi, Cho Kyuhyun sungguh sangat mudah untuk terbakar oleh emosinya.

 

Kyuhyun hanya terdiam, apakah benar istrinya membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya sendiri? Pertanyaan itu muncul seolah keraguan akan ucapan Donghae yang berusaha menenangkannya. Pikirannya tetap saja tertuju pada Hyowon, istrinya yang sedang mengandung calon buah hati mereka.

 

Ia tidak pernah menyesali akan perbuatan yang telah ia lakukan, hanya saja Kyuhyun merasa begitu kalah seperti pecundang yang jatuh ke dalam jurang saat tidak mampu membuat istrinya untuk tetap berada disampingnya.

 

Hyukjae menatap Kyuhyun yang terlihat sangat kacau itu merasa kasihan, “Ucapannya benar, kau harus memikirkan istrimu yang sedang hamil. Jika dia terlalu banyak pikiran, maka tidak baik untuk kondisinya juga bayi kalian.”

 

“Aku sangat paham itu.” balas  Kyuhyun dengan cepat dan dingin.

 

Hyukjae dan Donghae hanya bisa menghela nafas panjangnya, jika Kyuhyun sangat paham akan hal itu mengapa ia senang sekali membuat istrinya bersedih dan marah-marah. Pria itu juga bahkan sulit sekali mengalah untuk siapapun termasuk Hyowon istrinya. Sifat Kyuhyun yang seperti itu juga yang menjadi alasan Hyukjae dan Donghae  untuk tidak terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga Cho Kyuhyun yang cukup rumit itu.

 

“Tapi, kalian juga sangat paham bagaimana karakter Hyowon. Dia jauh lebih keras kepala dan kuat daripada diriku sendiri. Bagaimana jika ia sungguh-sungguh menggugat cerai, huh?”

 

Mata Kyuhyun memerah seketika saat mulutnya sendiri yang mengatakan tentang otaknya yang sialan karena telah memikirkan tentang perceraiannya. Sorot mata yang tajam dan bisa membuat semua gadis meleleh karena tatapannya itu tidak mampu menutupi kecemasan, kemarahan, kesedihan, dan ketakutan yang dirasakan Kyuhyun saat ini.

 

Kedua sahabatnya nampak berpikir, dan tentunya membenarkan ucapan Kyuhyun yang menyebutkan karakter istrinya. Benar, perceraian bisa saja terjadi jika masalah mereka tidak dapat diselesaikan dengan baik. Pasangan suami istri ini akan sering berdebat atau bahkan bertengkar hebat hanya karena hal kecil dan tak berujung. Jika Kyuhyun yang masih memperdulikan mantan kekasihnya, Yoon Soojin. Maka tidak jauh berbeda dengan Hyowon yang tentunya akan selalu membela Baekhyun bagaimanapun juga.

 

“Apa yang harus aku lakukan?” Kyuhyun bergumam dengan frustasi seraya mengusap wajahnya sangat kasar dengan kepalanya yang berpikir bagaimana caranya untuk menyelesaikan permasalahannya. Sementara ia juga tidak bisa untuk tidak peduli pada Soojin. Jika saja pria itu bisa melakukannya, maka masalah mungkin sudah selesai.

 

“Biarkan Hyowon disana, jangan terlalu memaksanya pulang. Teruslah meminta maaf dan lebih memperdulikannya. Kau harus lebih hangat dan mengerti terhadap istrimu. Cobalah kendalikan emosimu yang mudah membara itu!”

 

Kyuhyun mendelik, ia menajamkan tatapan matanya yang ia lemparkan pada Hyukjae. Pria itu berusaha menasehatinya, namun seolah mengguruinya. Bahkan kalimatnya terlalu panjang dari apa yang dikatakan Donghae.

 

“Apa kau sedang mengajarkan bagaimana memperlakukan istriku dengan baik, Lee Hyukjae? Apa selama ini aku tidak memperdulikan istriku, huh?” Nada bicara Kyuhyun meninggi. Ada perasaan kesal yang timbul begitu saja, ia tidak bisa menerima ucapan Hyukjae untuknya.

 

Hyukjae mendecak, kemudian berdiri dengan menaruh tangannya di pinggangnya. “Lihatlah, emosimu itu benar-benar menyeramkan! Lakukanlah apapun yang ingin kau lakukan, kau tidak pernah mendengarkan apa yang orang lain katakan, kau hanya mendengarkan dirimu sendiri!”

 

Kyuhyun terdiam menatap Hyukjae yang terlihat kesal itu berjalan setelah mencibirnya. Dan Donghae melakukan hal yang sama, pria berwajah tampan dan memiliki dada yang bidang sempurna itu memandang Hyukjae dengan pasrah. Yang dikatakan Lee Hyukjae memang sangat benar, namun karakter Kyuhyun benar-benar sangat keras dan dingin. Ia tidak mampu untuk melunakkan watak itu dengan mudah, bahkan perubahan sikap Kyuhyun semenjak pernikahannya itu selalu berhubungan dengan Hyowon, hanya gadis itu pula yang bisa merubah dan mengendalikan seorang Cho Kyuhyun.

 

 

Kyuhyun memasuki kamarnya, meninggalkan Lee donghae yang bersiap untuk menyelesaikan masalah tentang pemberitaannya di media bersama tim pengacara. Rasa sakit dihatinya tidak mereda sedikitpun, ia melihat tempat tidurnya yang kosong membuatnya selalu dan semakin memikirkan Hyowon. Kyuhyun membaringkan tubuhnya hingga ia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong dan gelap.

 

“Kita tidak akan berpisah, bukan?” Kyuhyun bergumam dengan suara yang sangat rendah dan bergetar. Pikirannya melayang pada memorinya yang menyimpan kenangan manis bersama istrinya di kamar ini. Tubuhnya merasa kedinginan karena tidak bisa memeluk tubuh istrinya saat ini. Oh ya, Kyuhyun selalu merasakan rindu yang teramat menyiksanya setiap Hyowon tak ada di sampingnya.

 

***

 

Hyowon duduk di kursi tunggal dengan meja persegi panjang di depannya. Park Junhwang, sang ayah telah mempersiapkan makanan yang tersaji disana. Ia menyambut kedatangan putrinya dengan senyum meski hatinya terluka.

 

“Kau terlihat lebih kurus dan pucat, Appa ingin kau menghabiskan semuanya!” Park Junhwang mendekatkan sup dalam mangkuk yang terlihat masih sangat hangat itu pada Hyowon. Kakeknyapun sudah duduk di dekatnya dengan menahan mulutnya yang sangat ingin menanyakan kebenaran berita panas itu tentang cucu menantunya.

 

Hyowon menganggukkan kepalanya dan meraih sendok itu dengan cepat. Tangannya bergerak memasukkan sup ke dalam mulutnya secara perlahan. Wajah cantiknya masih menampakkan ekspresi datar yang terlihat lebih terluka daripada wajah bersedihnya. Nafsu makannya benar-benar hilang, namun pikirannya cukup mampu mengendalikannya agar mau memasukkan makanan ke dalam perutnya. Ya, itu semua demi calon buah hatinya. Di dalam perutnya yang masih rata itu hidup calon bayinya yang membutuhkan nutrisi.

 

Wonho dan Jungsu bergabung di ruang makan. Raut wajah kedua pria tampan ini masih belum bisa untuk menunjukkan senyuman manis yang menandakan keadaan yang baik-baik saja. Akan tetapi, keempat pria dalam keluarga ini telah bersepakat untuk tidak membahas tentang Kyuhyun saat Hyowon telah sampai di rumah ini. Mereka semua akan menunggu gadis satu-satunya di rumah ini untuk berbicara, ataupun menjelaskan dengan kemauannya sendiri.

 

“Aku sangat lelah, aku akan berisitirahat di kamar.” Hyowon berdiri dari kursinya usai menghabiskan makanannya. Park Junhwang tersenyum lembut dan mengusap bahu putrinya perlahan.

 

“Geurae, kau pasti kelelahan usai perjalanan luar negerimu. Beristirahatlah.”

 

Hyowon menyandarkan bahunya pada headboard tempat tidurnya seraya memejamkan matanya. Kenangannya selama beberapa tahun lamanya saat ia menempati kamar ini seperti tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan satu malam bersama suaminya. Pertama kali memasuki ruangan ini, wajah Cho Kyuhyun langsung tergambar di dalam pikirannya.

“Aku tidak suka jika kau tidur membelakangiku, tapi aku menyukai tempat tidurmu yang kecil ini. Mendekatlah selalu, kau bisa jatuh jika bergerak menjauh dariku!”

Hyowon masih mengingat ucapan itu, bahkan senyum Kyuhyun yang terlihat mempesona ketika memandangnya.

“Nado Saranghae . . .” kalimat yang diucapkan Kyuhyun sebelum pria itu menghujaninya dengan kecupan, dan sentuhan. Mencuri hatinya, memilikinya seutuhnya.

 

Akan tetapi, apa yang ia lihat kemarin itu sungguh menyayat hatinya. Hatinya ditimpa dengan beban sangat berat ketika melihat dan mengingat bagaimana Kyuhyun memeluk wanita lain dengan erat, dan wanita itu adalah mantan wanitanya. Hyowon tersenyum pahit dengan bibir yang bergetar ketika air matanya jatuh tanpa kendalinya.

 

Namun wajah basahnya itu tidak lama, jari-jarinya dengan cepat menghapus jejak air mata itu. Hyowon tidak boleh terlalu stress dan larut dalam kesedihan bukan? Kondisi kesehatannya bisa semakin memburuk, dan kehamilannya bisa terganggu.

 

Hyowon kemudian menatap layar ponselnya yang menampilkan beberapa pesan masuk yang berasal dari pengirim yang sama, Cho Kyuhyun.

 

[“Kau sudah sampai?”]

 

[“Beristirahatlah, dan makan makanan yang bergizi dan minum susu. Jika kau kehilangan nafsu makanmu, ingatlah dia yang berada di perutmu.”]

 

[“Kapan kau akan pulang? Aku ingin menemanimu memeriksakan bayi kita. Aku ingin tahu berapa usianya, dan jenis kelaminnya.”]

 

[“Kau membaca pesanku? Bisakah membalasnya?”]

 

[“Aku merindukanmu.”]

 

[“Won, bisakah aku mendengar suaramu? Ah, aku lebih suka jika aku bisa mendengar dan melihatmu.”]

 

[“Maafkan aku. Bisakah untuk berhenti mengabaikanku?”]

 

[“Ah, baiklah kau pasti butuh waktu untuk beristirahat.”]

 

[“Istriku, aku sangat mencintaimu.”]

 

 

Hyowon’s Pov

 

Dia mudah sekali membuatku tersenyum, dan menangis. Benar-benar tidak tahu malu, dan bodohnya aku begitu mencintainya yang tidak tahu malu itu, hingga rasa sakitnya sama besarnya. Oh Cho Kyuhyun, suamiku, haruskah aku memakimu untuk semua rasa sakitku?

 

Apa aku sangat berlebihan ketika aku seperti ini karena suamiku masih sangat peduli terhadap mantan kekasihnya? Tidak bukan? Cinta pertama benar-benar membuat semua orang tidak mudah untuk melupakannya, meskipun meninggalkan luka yang dalam.

 

Aku tidak suka ini, pernikahan, ataupun hubungan percintaan yang memiliki banyak konfiik dan merasa tersakiti. Aku bukan seorang gadis manis yang mampu menerima banyak kesedihan, aku tidak bisa. Berulang kali berusaha untuk menyerah dengan pernikahan ini, akan tetapi berulang kali pula seorang Cho Kyuhyun membuat hatiku bertekuk lutut untuknya. Entahlah, hatiku tidak sekuat itu. Bahkan aku tidak yakin bisa sampai pada batasnya nanti.

 

***

 

Hari ini aku memutuskan untuk menghabiskan senja yang cerah ini di sebuah taman yang berada tak jauh dari rumahku. Tidak sendiri, seorang pria tampan bersamku. Byun Baekhyun mengunjungiku siang tadi. Dan sebelum ia kembali ke Seoul, sahabatku itu bersedia menemaniku disini. Tempat bermainku bersamanya dan Arin dulu.

 

“Kau harus memeriksakan kondisimu lagi.” Baekhyun berbicara dengan nada santai namun terkesan memerintah dengan lembut. Aku tersenyum padanya dengan wajah enggan.

 

Dia adalah orang satu-satunya yang mengetahui kondisiku, sangat mengetahui bagaimana keadaan kesehatanku saat ini.

 

“Aku akan melakukannya nanti.” Balasku. Aku berucap dengan hati bergetar ketakutan, dan ketidakberdayaan. Cedera otak benar-benar menyeramkan, tak pernah terpikirkan sebelumnya hingga aku mengalami hal ini. Amnesia, oh itu benar-benar membuatku merinding dan tidak yakin jika aku benar-benar mengalaminya.

 

Hidupku seolah sangat lengkap dan tak biasa, perjalanan hidup yang kulalui sejak dilahirkan ke dunia ini benar-benar sangat menakjubkan. Aku tak pernah melihat sosok ibu kandungku, memiliki ibu tiri yang berniat menjualku, perjodohan, pernikahan yang tidak biasa dan penyakit ini. Oh  Tuhan, apa kau begitu menyayangiku? Apa aku sungguh sangat istimewa?

 

“Kau masih belum memberitahu yang lainnya?” Aku menoleh pada Baekhyun yang duduk di kursi panjang yang sama denganku. Bibirku kembali tersenyum dan menggelengkan kepalaku. Ia menyipitkan matanya yang sudah sipit itu dengan wajah gemas, lalu mengusap rambutku dengan perlahan.

 

Ini menenangkan, namun lagi-lagi aku teringat pada Kyuhyun. Seolah pria yang sedang membelai rambutku itu adalah Kyuhyun, membuat jantungku berdetak lebih cepat dan rasanya dada ini begitu sesak. Lagi-lagi aku mengalami kesulitan untuk bernafas, Cho Kyuhyun apa yang kau lakukan padaku?

 

“Gwenchanna?” Baekhyun kini berwajah cemas, ia menangkap perubahan ekspresiku.

 

Aku tidak baik-baik saja, aku memikirkan Kyuhyun. Hatiku sakit karena memikirkannya, aku ketakutan. Aku takut Kyuhyun meninggalkanku, aku takut Kyuhyun benar-benar masih mencintai wanita itu dan meninggalkanku!

 

“Ada apa, huh?”

 

Baekhyun menarik tubuhku ke dalam pelukannya, dekapan erat dan hangat namun Kyuhyun bisa melakukan lebih dari itu. Jantungku berdetak lebih cepat, dan darah mengalir lebih deras namun hatiku merasa sangat nyaman dan damai saat berada di pelukan Kyuhyun. Andai jika Kyuhyun yang memelukku saat ini.

 

“Aku merindukannya, aku merindukan Kyuhyun…” air mataku kembali jatuh saat bergumam dan menyebut namanya dengan suara sangat pelan. Baekhyun semakin mengeratkan pelukannya. Tapi itu tidak mampu untuk membuatku lebih tenang, aku semakin menangis dan terisak dengan air mata yang yang membasahi jaketnya.

 

“Aku ingin berpisah dengannya!”

Aku terisak, histeris dan meracau dengan bibir yang bergetar. Kedua tanganku mencengkram erat pakaian tebalnya.

 

Author’s Pov

 

“Baekhyun-ah, aku ingin berpisah dengannya… hiks… hiks!”

 

Hyowon melepaskan dirinya dari dekapan Baekhyun, menjauhkan kedua tangannya dengan lemah. Ia menundukkan wajahnya merasa frustasi. Kemudian ia mendongakkan kepalanya menatap Baekhyun yang memandangnya dengan wajah sedih. Wajah basahnya itu terlihat sangat menyakitkan bagi Baekhyun.

 

Kedua tangannya terulur menyentuh pipi Hyowon dan menghapus air mata itu dengan lembut.

“Kenapa kau menghapus air mata yang dibuat oleh Kyuhyun, huh? Bukankah harusnya pria itu yang melakukannya? Apa kau mau menikah denganku jika aku bercerai dengannya? Huh?”

 

Jantung Baekhyun semakin berpacu, ia menatap sepasang mata itu memerah dengan wajah kesedihan yang akan sangat sulit untuk ia hibur. Senyuman yang selalu tercipta dengan mudah dan sangat mendamaikan itu akan bercampur dengan kesakitan yang tak berujung.

 

“Oh ayolah, Cho Kyuhyun pria brengsek, bukan? Harusnya aku bercerai dengannya sejak awal, atau aku tidak perlu menikah dengannya!” Hyowon tersenyum canggung, hatinya menolak atas apa yang baru saja ia katakan dengan suara lantang dan frustasi itu.

 

Baekhyun hanya diam, menatap lebih tajam sepasang bola mata yang sarat akan kesedihan itu dengan perasaan sakit bercampur dengan kemarahannya. Pria itu sangat tahu, Hyowon begitu mencintai Kyuhyun melebihi dirinya sendiri. Andai ia mampu menjadi sosok pria yang Hyowon cintai, maka demi apapun ia tidak akan pernah menyakiti hati gadis itu.

 

Hyowon bergerak mendekat dan memeluk Baekhyun dengan lemah. Baekhyun tidak diam saja, ia melingkarkan kedua tangannya pada punggung Hyowon, membiarkan gadis itu menangis dalam dekapannya. Tersisak dan meluapkan semuanya yang tertahan di dalam hatinya.

 

Seorang pria berdiri tak jauh dari sana, memandang Hyowon dan Baekhyun dengan mata yang menggelap. Kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya itu mengepal kuat dengan menahan bom dalam hatinya yang akan meledak dan memporak-porandakan semua yang berada di dalamnya.

 

Kyuhyun tersenyum pahit disertai wajah memerahnya yang menahan amarah yang melimpah. Dengan kasar ia menghela nafas panjangnya, tubuhnya seolah terbakar melihat pemandangan yang merusak matanya dan menghancurkan hatinya itu. Kyuhyun membalikan tubuhnya dan berjalan cepat meninggalkan area taman ini. Perasaan menyesal, sakit hati, marah, kecewa, dan sedihnya mengiringi perjalanannya kembali ke Seoul.

 

Tangan Baekhyun masih mengusap lembut punggung Hyowon dengan wajahnya yang dingin dan aura yang menggelap di sekitarnya. Satu sudut bibirnya terangkat keatas melihat Kyuhyun berjalan menjauh dari pandangannya.

 

“Aku tidak ingin berpisah dengannya, aku sangat merindukannya. Aku ingin melihat wajahnya! Hiks.. hiks.. Aku membencinya, tapi aku lebih membenci diriku sendiri karena terlalu mencintainya.” Hyowon benar-benar tidak mampu menahan dirinya lagi, jika mulutnya mampu mengeluarkan kalimat keinginannya untuk berpisah, tidak dengan hatinya yang masih sangat mencintai suaminya.

 

“Arraseo, maka tidak perlu untuk berpisah. Temui suamimu, dan jangan sakit hati lagi. Jangan menderita lagi.” Baekhyun tersenyum menyentuh bahu Hyowon. Sungguh tidak mudah untuk menciptakan senyuman itu, hatinya tidak bisa menerimanya dengan mudah.

 

*

 

Hyowon kembali ke rumahnya bersama Baekhyun. Pria itu berpamitan kepada keluarga Hyowon sebelum ia pulang kembali ke Seoul. Setelah itu, Hyowon meminta seluruh anggota keluarganya untuk duduk bersamanya di ruang utama. Gadis itu sangat paham bagaimana keluarganya yang bersikap seolah tidak ada apa-apa itu sebenarnya membutuhkan penjelasan darinya. Maka dari itu, ia tidak ingin membuat mereka menunggu lagi. Perasaannya sedikit lebih lega. Kedatangan Baekhyun sedikit membantu kesesakkan di dalam dadanya.

 

“Harabeoji, Appa . . . aku akan kembali ke Seoul.” Ucap Hyowon mengawali pembicaraanya. Jungsu dan Wonho Nampak tidak setuju dengan keputusan saudara perempuannya itu.

 

“Kau masih ingin tetap bersamanya, huh? Dia sudah menyakitimu!” Wonho menampakkan wajah kesalnya. Ia benar-benar tidak bisa membiarkan kakak perempuannya itu kembali disakiti oleh Kyuhyun.

 

“Aku harus tetap bersamanya.” Balas Hyowon yang menatap adiknya dengan wajah serius. Ia kemudian memandang Ayah, Kakek, dan Kakaknya bergantian.

 

“Kyuhyun tidak melakukan kesalahan apapun, berita-berita itu semuanya bohong. Dia tidak pernah berselingkuh dariku, dia sangat mencintaiku.” Hyowon menjeda ucapannya. Pandangannya seolah ia tidak memiliki kepercayaan diri untuk mengatakan hal itu. Seolah kebohongan yang terlihat jelas baginya.

 

“Mereka hanya tidak suka dengan hubungan kami, wanita itu hanya temannya. Hanya itu!” Hyowon berusaha memasang wajah seriusnya untuk membuat keluarganya percaya, menutupi kehancuran di dalam hatinya. Seperti ia sedang menutupi wajah kacaunya dengan polesan make up yang tebal.

 

“Kau yakin? Apa kau baik-baik saja?” Sang Kakek memandang penuh wajah cucunya, ia juga berusaha untuk tidak percaya dengan berita itu. Pria paruh baya itu berharap kehidupan cucunya bersama suaminya berjalan lancer. Jika tidak maka pria tua inilah yang merasa bersalah karena sebuah perjodohan itu.

 

“Tentu saja, meskipun aku kesal karena dia memeluk wanita lain. Tapi aku sungguh baik-baik saja, dan aku tidak bisa berada jauh darinya begitu lama.”

 

“Jangan berbohong! Lalu kenapa wajahmu saat itu terlihat sangat pucat dan bengkak, huh?” Park Jungsu memotong ucapannya.

 

“Tidak, aku tentu saja menangis. Akhir-akhir ini aku sangat sensitif, itu karena aku sedang hamil.”

 

“Mwo?” keempat pria didekatnya itu terkejut dan memekik kompak. Namun setelah itu Ayahnyalah yang pertama membuat senyuman diwajahnya itu .

 

“Aku sedang hamil sekarang.” Hyowon menegaskan ucapannya dengan senyum.

 

Kabar gembira itu membuat kakeknya tidak bisa menahan senyum bahagianya, ia langsung memeluk cucunya dengan senang. Begitupun dengan ayah dan kakaknya. Sementara Wonho masih memandang kakak perempuannya itu dengan wajah takjub dan senyum yang sedikit terbit.

 

“Hyung, apa sebentar lagi kita akan mendapatkan keponakan?” pertanyaan Wonho mendapat anggukan dan pukulan pelan pada bahunya dari Park Jungsu. Ayah dan Kakek mereka hanya bisa tertawa kecil melihat ekspresi kedua pria muda itu.

 

“Kenapa kau baru mengatakannya, huh?” protes Jungsu yang masih memandangi perut Hyowon yang masih rata itu.

 

*

 

Hyowon dijemput oleh Henry tepat pukul 7 malam. Keluarganya merasa tidak suka dengan itu, harusnya Kyuhyun yang menjemput istrinya untuk pulang. Bahkan pria itu berhutang permintaan maaf dan penjelasan terhadap keluarga mertuanya itu.

 

“Aku yang melarangnya, aku sedang tidak ingin melihatnya sekarang. Mungkin karena bayi kami sedang protes pada ayahnya. Entahlah, mood-ku berubah sangat cepat. Bahkan aku ingin makan ice cream sekarang.”

 

Penjelasan Hyowon membuat mereka bisa menerimanya. Sedangkan Henry menatap Hyowon merasa bersalah. Gadis itu sedang berusaha melindungi suaminya saat ini. Ia benar-benar terlihat seperti seorang aktris yang hebat, aktingnya sungguh terlihat natural bagi siapapun yang melihatnya. Setidaknya ia sedikit meniru adegan dalam sebuah drama.

 

“Mianhaeyo, Presdir Cho tidak bisa menjemputmu.” Henry menatap sejenak wajah kecewa Hyowon lalu kembali fokus pada jalanan dengan kedua tangan yang memegang kemudi.

 

Hyowon memandangi layar ponselnya yang menampilkan percakapan melalui pesan singkat dengan suaminya itu.

 

[“Kyuhyun-ah, bisakah menjemputku? Aku akan pulang ke rumah.”]

 

[“Henry akan menjemputmu. Aku sangat sibuk!”]

 

Hyowon menghela nafas panjangnya, ia menahan agar air matanya tidak jatuh lagi. Pria itu kembali menghancurkan harapannya, apakah kesibukkannya itu jauh lebih penting dari istrinya sendiri? Kyuhyun benar-benar terlihat seperti sedang membolak-balikkan perasaannya saat ini.

 

“Bagaimana ini?”

 

Hyowon menoleh pada Henry yang tiba-tiba menghentikan mobilnya.

 

“Kurasa ban mobilnya bocor. Aku akan keluar untuk memeriksanya!”

 

Gadis itu menatap Henry yang membuka pintu mobil dan bergerak keluar. Ia kemudian menatap sekeliling jalanan dimana mereka berhenti. Ini tempat yang cukup sepi, tidak banyak kendaraan yang berlalu-lalang. Hyowon merasa ia pernah mengalami kejadian seperti ini.

 

Hyowon mengingatnya, beberapa orang pernah berusaha untuk mencelakainya.

 

“Henry-ya!” Hyowon berteriak saat tiga buah mobil berhenti di sekitar mereka. Para pria berjas hitam keluar dan langsung menuju Henry. Entah berapa orang, yang jelas jumlahnya begitu banyak. Dengan cepat ia meraih ponselnya untuk menghubungi Kyuhyun. Tapi pria itu menolak panggilannya, benar-benar brengsek! Gadisnya sedang membutuhkannya saat ini. Orang pertama yang selalu diingatnya disetiap apapun.

 

“Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana ini? Mereka sangat banyak!” Hyowon memekik frustasi seraya menekan layar pada ponselnya.

 

Hyowon kemudian menghubungi Hyukjae, pria itu menjawabnya. Syukurlah!

 

“Oppa, beberapa orang menyerang kami. Tolong datanglah… aku sangat takut… aku masih di dalam mobil, Henry ada di luar.”

 

Jantung Hyowon semakin berpacu, tubuhnya bergetar seraya menggigit bibirnya sendiri saat dua orang pria lainnya mendekat kearahnya. Beberapa langkah lagi maka mereka bisa meraih pintu mobilnya.

 

“Kalian dimana? Apa mereka melukaimu? Bagaimana dengan Henry?” suara Hyukjae terdengar begitu cemas. Tapi Hyowon seketika melihat Henry diluar sana, mereka tidak akan selamat meskipun jika melawan. Beberapa pria masih berdiri tegap di sekitar mobil. Ia juga tidak bisa melarikan diri kemanapun.

 

“Hyukjae Oppa, tolong selamatkan Henry… Mianhaaeyo.”

 

“Andwae!!! Yaa Cho Hyowon, tetap di dalam mobil! Apa yang akan kau lakukan, huh?”

 

Hyowon menaruh ponsel itu tanpa ingin mematikan panggilannya.

 

“Hyowon-ah!”

 

Gadis itu membuka pintu mobil disampingnya dan keluar dengan rasa takut yang menyergapnya. Ia tidak sanggup melihat Henry yang dipukuli beberapa orang itu. Tidak sampai terluka parah, mereka menghentikan aksi pemukulan mereka lalu memegangi Henry dan mengikat kedua tangan dibelakangnya.

 

“Targetnya bukan dia, tapi aku Cho Hyowon, bukan?” Hyowon menyerahkan dirinya sendiri. Ia tidak bisa melihat Henry dipukuli lagi, atau berusaha melawan sekumpulan pria disini. Terlalu berbahaya untuk janinnya, entahlah apa yang ada dipikirannya sendiri. Dan darimana keberaniannya datang, Hyowon dengan pasrah menyerahkan tangannya untuk diikat.

 

“Andwae!!! Kau tidak bisa melakukannya!” Henry berteriak keras, ia tidak bisa membiarkan Hyowon dibawa oleh para pria itu, Henry terus berusaha memberontak sementara seorang pria sudah menyiapkan sebuah suntikan berisi suatu cairan di tangannya.

 

Mereka tidak mengikat tangan Hyowon, gadis itu hanya disuruh untuk berjalan menuju mobil. Langkahnya terhenti saat seseorang itu bersiap untuk memberikan injeksi pada Henry. “Jangan menyakitinya, aku akan ikut bersama kalian. Kumohon, jangan menyakitinya!”

 

Seorang pria mendekat kearahnya, dan memegangi tangan kanannya seraya menatap dingin pada wajah ketakutan itu.

 

“Itu hanya akan membuatnya pingsan.”

 

*

 

Hyukjae berjalan cepat memasuki ruang kerja Kyuhyun dengan wajah cemas. Kyuhyun sedang duduk di kursinya dengan memandangi ponselnya yang berada di atas meja dihadapannya dengan datar. Layar ponsel itu menampilkan daftar panggilan telepon, tentu saja disana ada kontak istrinya sebagai panggilan telepon yang ditolaknya. Bayangan Hyowon yang memeluk Baekhyun sangat erat bahkan mengatakan keinginan untuk berpisah dengannya itu masih menjadi luka di dalam hatinya.

 

Hyukjae melihat itu dengan perasaan marah dan geram terhadap Kyuhyun. Ya, jika terjadi sesuatu Hyowon selalu menghubungi Kyuhyun terlebih dahulu, jadi alasan gadis itu meneleponnya adalah karena Cho Kyuhyun tidak menjawabnya.

 

“Cho Kyuhyun bodoh, apa kau sedang berniat mempertaruhkan hidup istrimu huh?” Hyukjae berteriak marah pada Kyuhyun. Bukan Kyuhyun namanya jika ia akan menerimanya begitu saja. Kyuhyun berdiri dan memberikan tatapan membunuhnya pada Hyukjae.

 

Hyukjae memamerkan ponselnya yang menampilkan riwayat panggilannya dengan Hyowon membuat Kyuhyun menautkan kedua alisnya merasa bingung.

 

“Mereka dalam bahaya, istrimu bahkan menyerahkan dirinya! Mereka menculik Hyowon!”

 

Mata Kyuhyun membulat sempurna, ia kesulitan bernafas karena dadanya begitu sesak. Jantungnya seperti berhenti berdetak untuk sesaat. Apa yang dikatakan Lee Hyukjae? Dia bercanda, bukan? Tidak, Lee Hyukjae tidak pernah membuat lelucon seperti itu!

 

Kyuhyun menyambar ponselnya dan langsung berusaha menghubugi istrinya namun ponselnya tidak aktif.

 

 

*

Kyuhyun, Hyukjae, dan Donghae beserta beberapa tim keamanannya telah sampai di tepi jalan dekat mobil yang Henry kemudikan. Kyuhyun segera membuka pintu mobil itu dengan kasar. Henry yang tak sadarkan diri dengan tangan terikat duduk di kursi kemudi dengan lemah. Matanya menelusuri setiap ruang di dalam mobil sedan hitam ini. Tidak ada istrinya di dalam, hanya ada ponsel itu yang tergeletak di atas tempat duduk.

 

“Henry-ya, ireona!” Donghae menepuk-nepuk pipi Henry berusaha untuk menyadarkannya.

 

“Dimana Hyowon-ku?” Kyuhyun bertanya entah pada siapa, ia berlari dan menyebar pandangannya ke segala arah. Jalanan gelap yang hanya terdapat penerangan yang minim dari lampu jalan yang redup itu membuat hatinya mengecil. Tidak ada Hyowon disini, Kyuhyun tidak melihatnya.

 

“Kau sudah sadar?” Tanya Donghae memastikan saat meliht kelopak mata Henry yang terbuka perlahan.

 

“Dimana istriku?” Kyuhyun mendekat kearah pintu yang terbuka itu bertanya dengan tergesa-gesa.

 

“Presdir Cho, mianhaeyo . . . mereka membawa Nyonya Cho Hyowon, dia menyerahkan diri… ini semua salahku.” Henry berucap dengan lemah seraya memegangi kepalanya yang terasa sakit.

 

Kyuhyun  mengusap kasar wajahnya dan meremas rambutnya sendiri. Ia begitu takut saat ini, emosinya juga memuncak dengan cepat. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan istrinya? Cho Kyuhyun merasa bahwa saat ini ia merasa sangat bodoh dan brengsek. Mungkin jika Kyuhyun dan Hyukjae yang menjemput Hyowon tadi maka tidak akan seperti ini, atau ia menjawab panggilan telepon dari istrinya itu.

 

***

 

Hyowon duduk di sebuah ruangan kosong berdinding putih yang hanya terdapat tempat tidur, meja dan kursi ditepi ruangannya. Gadis itu memikirkan cara untuk bisa menyelematkan dirinya dengan aman. Ataupun meminta bantuan pada siapapun. Setidaknya ia merasa sedikit bersyukur karena mereka tidak menyakitinya ataupun bertindak kasar terhadapnya, sehingga kondisi bayinyapun baik-baik saja.

 

Sebuah pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok pria tinggi yang memakai atasan kaos dipadukan dengan jas kasual dan celana hitamnya. Sepatu pantopel itu bergerak melangkah dan mendekat membuat Hyowon menoleh dan membulatkan matanya seketika melihat sosok itu di hadapannya.

 

“Baekhyun-ah…” gumam Hyowon dengan wajah tak percayanya. Apa ini? Baekhyun berada disini? Apa dia sedang menolongnya? Mengapa wajahnya terlihat begitu santai dan senyum itu . . . benar-benar terlihat dingin.

 

“Gwenchanna?” tanya Baekhyun yang kemudian berlutut dihadapan Hyowon dengan senyum yang asing baginya. Pria itu menyentuh tangan Hyowon yang bertaut yang berada di atas lututnya. Raut wajah Hyowon terlihat sedikit takut dengan sikap Baekhyun yang benar-benar membuat gadis itu tidak nyaman.

 

“Kau tidak perlu takut, aku tidak akan pernah menyakitimu. Aku hanya akan selalu melindungimu. Maafkan aku karena membuatmu datang kemari dengan cara itu, aku hanya tidak ingin kau menangis lagi disana.” Hyowon masih tidak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya saat ini. kedua matanya berair dengan menatap wajah Baekhyun tanpa ingin mengalihkannya.

 

“Uljimma, aku tidak ingin kau menangis.” Gadis itu seolah membeku dengan apa yang Baekhyun lakukan padanya. Pria itu mengusap rambutnya dengan teratur, senyum yang menampilkan bahwa semuanya baik-baik saja, dan wajah manja itu terlihat begitu membingungkan untuk Hyowon.

 

“B-Baekhyun-ah… a-apa yang kau lakukan?” Pertanyaan mudah itu bahkan terasa sangat sulit untuk ia keluarkan. Hyowon seolah ingin menyangkal semua yang ada di hadapannya ini, ingin sekali mendengar jawaban dari Baekhyun bahwa pria itu sedang membuat lelucon atau apapun itu.

 

“Semua yang kulakukan untukmu hanya agar kau tidak disakiti dan terluka lagi. Aku tidak bisa melihatmu bersedih, aku tidak bisa membiarkan orang lain menyakitimu. Aku akan melindungimu selamanya.” Ucap Baekhyun lalu berdiri di hadapan Hyowon dengan santainya.

 

“Kau adalah kehidupanku.”

 

“Baekhyun-ah!” Hyowon meninggikan suaranya. Ia bangkit dari tempat duduknya dan menatap Baekhyun dengan tatapan tak percaya dan sulit menerimanya. Ini masih membingungkan baginya. Selama ini Hyowon merasa bahwa ia sudah mengenal sahabatnya itu dengan baik, tapi sosok yang ada dihadapannya ini benar-benar membuatnya bingung.

 

“Duduklah, aku akan menceritakan dongeng yang panjang untukmu.” Kedua tangan Baekhyun menyentuh bahu Hyowon membawa gadis itu untuk duduk kembali di tempatnya. Hyowon hanya mampu menuruti apa yang diucapkan Baekhyun, tidak ada pilihan lain dan ia sendiripun sangat ingin mengetahui dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi.

 

“Kau seperti obat dari penyakit yang bersarang di dalam tubuhku. Kau tahu, sejak kecil hidupku sangat kacau dan berantakan. Sebelumnya kakek dan nenek selalu membandingkanku dengan Cho Kyuhyun, bahkan mereka menentukan Kyuhyun sebagai pewaris utama tanpa melihatku. Aku tidak peduli dengan itu, tapi saat ayahku dipenjara dan ibuku sakit… hidupku terguncang. Teman-temanku bahkan selalu menghinaku!” Hyowon memandang iba sosok pria yang duduk di sebelahnya dengan senyum kesedihannya. Ya, Hyowon pernah mendengar cerita ini dari Kyuhyun dan lebih jelasnya dari Hyukjae. Ia merasa hatinya juga sakit mendengarnya.

 

“Aku seperti pohon yang mengering menyisakan ranting tanpa daun… tapi saat aku bertemu denganmu, pohon itu kembali ditumbuhi daun-daun yang hijau… awalnya kau terlihat seperti pengganggu yang selalu memaksaku untuk berbicara denganmu, tapi kau adalah orang pertama yang membuatku tersenyum setelah itu. Kau membuatku ingin kembali hidup dengan damai. Benar-benar merusak rencanaku untuk membuat Cho Kyuhyun hancur.”

 

Hati Hyowon bergemuruh ketika mendengar Baekhyun ingin membuat Kyuhyun hancur. Baekhyun tersenyum dan kembali melanjutkan ucapannya.

 

“Aku mencintaimu melebihi diriku sendiri, bahkan aku tidak pernah marah padamu meski kau mencintai pria lain. Obsesiku bukan untuk memilikimu, aku hanya ingin selalu membuatmu tersenyum. Sungguh, waktu itu aku tidak bermaksud berkata kasar padamu. Itu untuk Cho Kyuhyun, aku sungguh minta maaf tentang ucapanku usai pesta pernikahan temanmu.”

 

Flashback

“Benarkah? Seperti apa aku yang kau kenal? Apa aku menggemaskan? Baik hati? Atau gadis ceroboh seperti kata Kyuhyun. Ah Kyuhyun itu benar-benar selalu membuatku terlihat kalah darinya.”

Baekhyun melenyapkan senyum yang baru ia buat diwajahnya itu, nama Kyuhyun membuatnya sangat sakit. Kenapa gadis itu mengatakan nama itu saat ini.

“Kau sangat menyebalkan dan membuatku muak bahkan hanya mendengar namamu.”

 

Baekhyun mengucapkan itu tanpa sadar masih dengan mata yang menatap tajam lurus kedepan tanpa memperhatikan Hyowon yang terkejut mendengarnya.

“Apa? Kau bercanda ya?”

“Tidak!”

Baekhyun masih dalam pikirannya yang memikirkan Kyuhyun, ia begitu tidak suka dengan pria yang menjadi sepupunya. Terlebih lagi karena pria itu merebut Hyowon darinya. Yang membuatnya kesal adalah ketidakberdayaannya untuk membuat Hyowon bersamanya. Baekhyun hanya ingin gadis yang dicintainya itu bahagia, hanya itu.

 

“Baekhyun-ah!”

 

Flashback End

 

Hyowon berusaha mengingat apa yang diucapkan Baekhyun, tapi tidak bisa. Kepalanya menjadi sakit karena ia berusaha mengingatnya. Astaga, potongan kenangan dalam hidupnya kembali ia lupakan.

 

“Saat aku pergi ke Paris, aku tidak bermaksud untuk menjauhimu. Hanya saja saat itu aku hampir melukai seseorang. Kau menyukai senior itu, tapi dia tidak mengetahui perasaanmu dan berhubungan dengan gadis lain. Kau menangis karena kau merasa hatimu sakit, aku ingin sekali menghabisinya namun Petugas Kang mencegahku. Dan dokter ahli mengatakan bahwa kondisi mentalku bisa melukai siapapun termasuk dirimu. Maka dari itu aku pergi, aku takut jika aku melukaimu, dan kau selalu mendukungku untuk menjadi seorang designer. Kau juga menyukai semua gambarku.”

 

“Aku melindungimu darisana, aku mengirimkan beberapa orang untuk melindungimu. Tapi setelah mendengar kau menikah dengan Cho Kyuhyun, aku tidak bisa untuk tetap menetap disana. Aku sangat tahu bagaimana sifat Kyuhyun, dia begitu pemarah dan egois. Aku bahkan tidak pernah mendengar kalian berkencan. Aku datang kembali hanya untuk melindungimu. tidak ada yang lainnya.”

 

Air mata Hyowon tak bisa ditahan lagi, jatuh begitu saja dan membuatnya terisak. Baekhyun merasa cemas dan langsung menyeka air mata itu dengan jari-jarinya.

 

“Apa aku membuatmu menangis? Apa aku menyakitimu? Apa kau terluka? Apa kepalamu sakit?” Baekhyun terlihat begitu cemas dan membuat Hyowon semakin terisak.

 

“Aniya, gomawo…” Hyowon memberikan senyumannya dengan mata yang memerah. ia berusaha menahan tangisnya yang bisa semakin menjadi-jadi karena melihat sikap Baekhyun yang begitu mengkhawatirkannya.

 

Baekhyun menganggukkan kepalanya dan bernafas lega, tatapannya melembut. Ia tersenyum dan terlihat sangat tampan dengan senyumnya itu.

 

“Kau tidak perlu takut pada siapapun, aku selalu memberikan balasan pada orang yang yang menyakitimu.  Teman kerjamu yang membuatmu jatuh hingga coklat dan kue menimpamu itu juga jatuh pada aspal yang tidak licin. Dia selalu mengganggumu, bukan?” Baekhyun memberikan senyuman kemenangannya.

 

“M-mwo? Maksudmu Nayeon?” Hyowon mengingat  bahwa setelah pernikahannya itu Nayeon mengalami kecalakan ringan dan masuk rumah sakit.

 

“Ibu tirimu juga sudah tidak mengganggumu lagi, bukan? Saat masih sekolah aku sudah mengancamnya, akan tetapi bagaimana bisa dia datang lagi dan menakutimu? Syukurlah, ia sudah tidak datang menemuimu lagi. Sama seperti ibu angkat Choi Lui, aku sudah membereskannya.”

 

“Apa maksudmu?  Apa yang kau lakukan padanya? Dia ibu kandung Wonho, adikku!”

 

“Hanya mengancamnya, memberikan uang dan tempat tinggal yang jauh darimu.” Jawab Baekhyun dengan wajah polosnya namun membuat Hyowon merasa takut.

 

“Dan ya, aku berhasil menyelamatkanmu dari penjahat yang berusaha mencelakaimu dengan mengikuti mobilmu. Petugas Kang dan beberapa orangku selalu membantuku jika aku tidak bisa menyelesaikannya sendiri.”

 

“Oh ya, aku juga menyuruh mereka untuk menusuk pria yang menusukmu waktu itu. kudengar dia koma sampai saat ini. Aku juga yang membuat Kyuhyun dan wanita itu kecelakaan. Mereka  berdua telah menyakitimu, sedikit balasan untuk mereka tidak apa-apa, bukan?”

 

“Baekhyun-ah, kau tidak bisa melakukan semua itu! kau tidak boleh menyakiti orang lain demi diriku! Kau bahkan tidak boleh menyakiti Kyuhyun…” Hyowon menggelengkan kepalanya berulang kali. Wajahnya kembali basah oleh air matanya. Kedua yangannya mencengkram erat lengan Baekhyun.

 

“Wae? Kenapa aku tidak bisa? Aku memang tidak berniat untuk  menyakiti Cho Kyuhyun. Tapi Pria brengsek itu telah melakukan hal yang membuatku ingin membunuhnya. Kenapa dia menyakitimu? Benarkah dia mencintaimu? Kenapa dia selalu menyakitimu? Kenapa Kyuhyun melakukan hal yang membuatku ingin membunuhnya? Menyakitimu! Kyuhyun melakukannya berulang kali!” Baekhyun meninggikan nada bicaranya hingga terdengar seperti ia membentak Hyowon saat ini membuat gadis itu meringis dan memejamkan matanya ketakutan.

 

Baekhyun menyadari hal itu, ia telah lepas kendali dan membuat gadis yang sangat ia cintai itu ketakutan. Tangannya bergetar berusaha untuk menyentuh bahu Hyowon namun gadis itu bergerak menghindar membuat Baekhyun menampakkan wajah cemas dan merasa bersalahnya.

 

“Hyo, aku tidak bermaksud untuk memarahimu. Percayalah, kumohon tenanglah! Maafkan aku, kumohon maafkan aku.”

 

Hyowon membuka matanya, ia menggigit bibirnya sendiri menahan tangisannya. “Baekhyun-ah … hiks.. Baekhyun-ah… mi-mianheyo… hiks.. hiks..” tangisnya pecah, bibir bergetarnya mengeluarkan isakan-isakan yang membuat hati Baekhyun tersayat. Kelopak matanya menampung air matanya untuk saat yang kemudian jatuh melewati  permukaan pipinya. Baekhyun menangis melihat Hyowon yang menangis dengan isakan yang tak tertahankan itu meminta maaf dengan wajah penyesalannya.

 

“Ya, kenapa kau harus meminta maaf eoh? Hajima, jebal… uljimma.” Tangan kiri Baekhyun mengusap lembut bahu kanan Hyowon dengan teratur. Gadis itu masih menangis dengan menundukkan wajahnya.

 

“Mianhae, ini semua karena seorang Park Hyowon.. aku yang bersalah, aku yang membuatmu seperti ini. Kumohon maafkan aku…” Baekhyun tidak bisa mendengar permintaan maaf dari Hyowon lagi, pria itu merengkuh tubuh mungilnya ke dalam pelukannya. Sekalipun gadis itu tidak pernah membuat kesalahan terhadapnya, di dalam pikiran dan hatinya Hyowon adalah kehidupannya, senyumnya, dan kekuatannya. Kebahagiaan Hyowon adalah udara untuknya bernafas.

 

 

*

 

Keesokkan harinya, Kyuhyun masih berusaha untuk mencari keberadaan istrinya. Hyukjae dan para tim keamanannya dikerahkan melakukan pencarian secara rahasia. Bahkan kabar hilangnya Hyowon saat ini tidak diketahui oleh kedua keluarga. Kyuhyun pasti akan menemukannya, dimanapun istrinya berada saat ini, siapapun orang yang membuat istrinya dalam bahaya maka Kyuhyun tidak akan segan-segan untuk memberikan hukuman atas itu.

 

Dan ditempat yang berbeda, Hyowon sedang duduk ditempat tidur dengan memandangi segelas susu dan air mineral, potongan apel, dan sup labu diatas meja di dekatnya. Baekhyun tersenyum setelah menyajikan semua itu untuk Hyowon. Bahkan lebih dari dua puluh potong pakaian tergantung disana. Semua gaun dan pakaian itu Baekhyun yang membuatnya khusus untuk Hyowon.

 

“Makanlah, makhluk kecil di dalam perutmu sudah berteriak kelaparan.” Ucap Baekhyun dengan menatap sekilas perut Hyowon.

 

“Aku ingin pulang, aku ingin bertemu dengan Kyuhyun.” Hyowon berucap lemah, ia juga tidak mengerti mengapa saat ini begitu merindukan suaminya. Hyowon merasa ia benar-benar sudah gila karena pria itu, karena jika tidak maka ia akan lebih memilih untuk tidak menemui pria yang sudah menyakitinya, bahkan sengaja mengabaikannya saat ia sangat membutuhkannya.

 

“Aku akan mempertimbangkannya, sekarang makanlah dulu.” Baekhyun memang cukup pandai menahan amarahnya, hatinya sakit mendengar nama Kyuhyun akan tetapi ia tidak bisa melihat Hyowon ketakutan ataupun bersedih lagi.

 

Hyowon menyentuh gelas susu itu dengan pandangan yang memburam, air matanya kembali mengisi kelopak matanya. Susu berwarna putih ini mengingatkannya pada sosok Cho Kyuhyun yang akhir-akhir ini rajin memberinya susu. Hatinya seolah telah dijahit permanen dengan label “Kyuhyun” disana. Nama Kyuhyun selalu memenuhi hati dan pikirannya.

 

Hyowon berpikir bahwa saat ini mungkin saja mereka mencemaskannya, mereka pasti kesulitan mencarinya. Apa yang harus dilakukannya saat ini?

 

***

 

Donghae memasuki mobil berwarna hitam itu dengan cepat. Ia segera menoleh pada Kyuhyun yang duduk di kursi belakang. Hyukjae juga sudah menunggunya di kursi kemudi. Mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan normal.

 

“Nona Choi Lui mengatakan bahwa sudah dua hari Baekhyun tidak masuk kantor dan sangat sulit dihubungi. Ia juga pernah mendengar bahwa Baekhyun memiliki sebuah villa di kota Seoul ini.” jelas Donghae yang membuat keduanya lebih yakin dengan dugaannya.

 

Sebelumnya, Henry juga mengatakan sempat mengenali wajah yang pria yang menyerangnya. Cukup familiar, mereka seperti petugas keamanan yang masih berada dalam Tim Keamanan Keluarga Cho. Dan ya, Baekhyun memang memiliki beberapa anggota tim Keamanan sejak ia berangkat ke Paris.

 

Donghae memperlihatkan layar Ipad nya pada Kyuhyun. “Satu villa yang kepemilikannya masih atas nama ibunya Baekhyun ada disini.”

 

“Kerja bagus, Lee Donghae! Kita akan menemukan uri Hyowon.” Ujar Hyukjae dengan tegas dan sedikit senyum seraya mempercepat laju mobilnya. Petunjuk ini memberikan cahaya untuk ruangan kosong yang gelap dalam pencarian Hyowon.

 

*

 

Baekhyun kembali menyiapkan makanan untuk Hyowon, kali ini sorot matanya sedikit meredup. Senyum yang selalu menghiasi wajah tampannya itu bahkan terlihat seperti terpaksakan. Hyowon selalu memintanya untuk pulang, dan berhenti sampai disini.

 

“Makanlah, sebelum makanannya dingin.” Ucap Baekhyun dengan lembut. Hyowon hanya mampu memandanginya dengan wajah tak bernafsu. Selama disini, Baekhyun selalu menyuruhnya untuk makan. Membawakan makanan lezat dan bergizi, juga makanan kesukaannya. Ini memang tidak seperti penculikan, bahkan pria itu tidak berniat sedikitpun untuk melakukan hal itu.

 

“Kumohon Baekhyun-ah, aku ingin kembali ke rumahku. Mereka pasti mencemaskanku, mereka pasti mencariku. Aku tidak ingin mereka khawatir. Aku akan baik-baik saja dengan pulang ke rumahku.” Ujar Hyowon dengan memohon permintaan yang sama untuk kesekian kalinya.

 

“Cho Kyuhyun akan menyakitimu lagi.”

 

“Kau berharap aku disakiti lagi olehnya?”

 

Baekhyun menggeleng cepat. “Tentu saja tidak!”

 

“Ini kehidupanku, pernikahanku, aku akan menjalaninya meskipun merasakan kesedihan. Aku sangat mencintainya, hatiku sangat tersiksa saat aku berada jauh darinya. Kumohon mengertilah, aku akan sangat merasa bersalah jika kau terus seperti ini!”

 

*Praang!

 

Baekhyun melempar gelas kaca di hadapannya ke dinding hingga benda berwarna bening itu hancur menjadi serpihan-serpihan yang tersebar di sekitar lantai.

 

“Hyo! Kenapa kau tidak bisa berpikir dengan benar, huh? Dia selalu menyakitimu, dia akan selalu menyakitimu! Kau bisa terluka jika terus bersamanya! Apa kau tidak mengerti itu, huh?” Baekhyun berteriak dengan amarahnya yang meningkat. Ia bahkan masih mencengkram bahu Hyowon dengan erat, matannya yang menggelap itu terlihat begitu menakutkan. Untuk pertama kalinya Hyowon melihat ia marah seperti itu.

 

Hyowon meneteskan air matanya, ia tidak sanggup melihat kemarahan yang memuncak dari sorot mata pria dihadapannya. Rasa terkejut juga menghampirinya, suara bising akibat lemparan gelas itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

 

“Baekhyun-ah… mianhae…” gumam Hyowon dengan terisak dan masih menundukkan kepalanya.

 

Ekspresi wajah Baekhyun yang semula menampakkan kemarahan itu berubah drastis setelah melihat Hyowon yang kembali menangis dan menunduk ketakutan. Ia terlihat cemas dan kembali merasa bersalah. Tangan yang semula mencengkram bahu bergetar itu kini turun dengan lemah seolah ia tidak menyadari apa yang baru saja ia lakukan.

 

“Hyo… maafkan aku, apa kau terluka? Aku pasti sudah menyakitimu… kumohon maafkan aku, aku …” Baekhyun menunggu Hyowon untuk membalas ucapan penyesalannya. Kedua tangannya ingin sekali menyentuh Hyowon namun tidak bisa, seolah telah melakukan kesalahan yang sangat besar maka tidak berhak untuk menyentuhnya.

 

“Sungguh aku tidak bermaksud untuk memarahimu, aku tidak berniat untuk menakutimu, aku tidak pernah ingin menyakitimu… Hyo… kumohon.”

 

Hyowon mendongakkan kepalanya, ia menatap Baekhyun dengan wajahnya yang kembali basah. “Aku tahu, dan yang telah Kyuhyun lakukan itu sama sepertimu. Dia tidak pernah berniat untuk menyakitiku, ada alasan yang memicunya hingga membuatnya menyakitiku, sama sepertimu. Kumohon, hentikan semua ini. Aku ingin sekali melihatmu bahagia dengan gadis yang baik yang sangat mencintaimu.”

 

Baekhyun menghindari tatapan memohon Hyowon padanya, ia mengalihkan pada beberapa makanan yang tersaji di depannya. “Makanlah dulu, aku akan memikirkannya.”

 

*

 

Setelah beberapa saat kemudian, mereka sampai tepat di depan sebuah villa. Kyuhyun yang sudah tidak sabar itu langsung membuka pintu mobilnya. Beberapa mobil di belakangnya ikut berhenti, anggota tim keamanan pribadi Cho Kyuhyun itu keluar dengan setelan jas hitam khasnya. Sebelum mereka bisa memasuki villa ini, beberapa orang telah siap berjaga di depan pintu utama.

 

“Habisi mereka!” Perintah Cho Kyuhyun pada tim keamanannya dengan beremosi. Ia tidak bisa membiarkan orang-orang yang telah membawa istrinya itu masih bisa bernafas dengan tenang. Semua orang tahu bahwa emosi Kyuhyun sangat membahayakan.

 

Namun sebelum perkelahian terjadi, seseorang keluar dari balik pintu dengan langkah santainya.

 

“Presdir Cho Kyuhyun, kalian tidak perlu melakukannya. Kau bisa masuk dengan mudah.”

 

“Petugas Kang, ada apa ini?” Lee Hyukjae bersuara, ia sedikit tidak percaya dengan apa yang pria yang disebutnya Petugas Kang itu katakan. Mereka mengenal pria setengah baya ini, pria yang ditugaskan untuk menjaga Baekhyun sejak kecil. Jika mereka menculik Hyowon, kenapa dengan mudah membiarkan Kyuhyun masuk. Apa ini sebuah jebakan?

 

“Kalian tidak bisa memukuli mereka yang telah melindungi Nyonya Hyowon selama ini.” ucap Petugas Kang dengan tenang. Namun tidak dengan Kyuhyun yang mendengarnya. Matanya semakin menyalang beremosi. Apa, melindungi Hyowon selama ini?

 

Tanpa ingin menanggapi ucapan Petugas Kang, Kyuhyun berjalan cepat memasuki villa itu dengan terburu-buru. Ia sudah tidak sabar untuk menemukan istrinya di dalam. Donghae, Hyukjae dan Petugas Kang berjalan di belakang Kyuhyun. Mereka juga tidak bisa membiarkan Kyuhyun melakukan hal yang diluar batasannya. Pria itu sedang emosi, akan lebih berbahaya dan nekad dari apapun.

 

Kyuhyun hendak menaiki anak tangga pertama untuk ke lantai dua, namun kakinya terhenti saat sosok yang ia cari saat ini keluar dari sebuah pintu bersama Baekhyun. Hyowon berdiri disana dengan memandangnya.

 

“Byun Baekhyun!!!” Pekik Kyuhyun dengan keras seraya mengepalkan kedua tangannya. Kepalan tangan itu sungguh sudah sangat siap untuk melepaskan pukulannya dengan sangat keras. Tubuhnya terbakar oleh emosinya yang semakin meningkat. Kyuhyun berlari menaiki tangga dengan kaki panjangnya.

 

Ia menarik Hyowon ke arahnya, memberikan tatapan membunuh pada pria yang sedang tersenyum menjatuhkan padanya. Kyuhyun menggerakkan kakinya, ia bersiap untuk memukul Baekhyun saat ini juga.

 

“Andwae!” Hyowon melingkarkan tangannya memeluk Kyuhyun untuk mencegah prianya memukul sahabatnya.

 

“Apa yang kau lakukan, huh? kau masih membelanya?” Kyuhyun berusaha untuk melepaskan pelukan istrinya, tetapi tidak bisa. Hyowon semakin mengeratkan pelukannya, dan Kyuhyunpun tidak mampu untuk mengeluarkan tenaganya untuk melepaskannya. Akan berbahaya jika Kyuhyun mengerahkan tenaganya hanya untuk menjauhkan tangan yang memeluknya itu. Ada Calon bayinya di dalam perut istrinya.

 

“Dia sama sekali tidak menyakitiku, jangan menyakitinya. Ayo kita pulang.” Ucap Hyowon yang terdengar seperti gumaman karena wajahnya yang terlalu menempel pada dada Kyuhyun.

 

Kyuhyun menatap Baekhyun dengan tatapan membunuhnya, ia menghembuskan nafasnya dengan kasar merasa tak berdaya saat ini.“Geurae, kajja!” jawab Kyuhyun dengan penuh penekanan, terlihat sangat jelas bahwa pria itu sedang menahan emosinya yang membuncah di dalam dirinya. Melempar tatapan dinginnya untuk Baekhyun yang masih menatapnya tanpa ekspresi.

 

Hyowon mendongakkan kepalanya, melihat Kyuhyun dengan penuh harap. Dan perlahan melepaskan pelukannya. Keduanya membalikkan tubuhnya bersiap untuk melangkah, akan tetapi Kyuhyun cepat membalikkan tubuhnya lagi dan…

 

*Bugh!

 

Satu pukulan keras tepat mengenai wajah Baekhyun hingga pria itu tersungkur ke lantai. Hyowon memekik tertahan ia menutup mulutnya dengan wajah terkejut. Petugas Kang yang sedari tadi menunggu di lantai bawah bersama Donghae dan Hyukjae itu akhirnya menaiki tangga untuk menghampiri Baekhyun.

 

“Kyuhyun-ah…”

 

Kyuhyun menoleh saat mendengar istrinya yang menggumamkan namanya dengan nada sangat rendah. Wajahnya panik melihat Hyowon yang memegangi perutnya, dan terlihat kesakitan.

 

“Wae? Apa perutmu sakit, huh?” Kyuhyun bertanya dengan nada cemas seraya tangannya yang menyentuh perut istrinya. Baekhyun yang terbaring di lantai itu mendongakkan kepalanya, ia juga merasa cemas melihat Hyowon kesakitan.

 

“Hyo, gwenchanna?” tanya Baekhyun dengan sudut bibir yang berdarah. Petugas Kang membantunya untuk bangun.

 

Mendengar Baekhyun mengkhawatirkan istrinya itu, Kyuhyun merasa tidak suka dan berniat untuk kembali memukulnya. Akan tetapi Hyowon yang melihat hal itu segera meraih tangan Kyuhyun hingga suaminya menatapnya.

 

“Aku ingin pulang, kumohon!” Kyuhyun mengangguk, ia segera membawa tubuh istrinya dengan kedua tangan kekarnya. Hyowon sedikit terkejut, ia memberikan tatapan memohon untuk menurunkannya karena ia bisa berjalan sendiri. Tapi Kyuhyun tidak menanggapinya. Ia tetap menggendong istrinya menuruni anak tangga dengan mudah hingga berjalan keluar menuju mobilnya dengan pintu yang terbuka.

 

Hyukjae dan Donghae sudah siap disana. Hyowon dan Kyuhyun memasuki mobil mewahnya, setelah pintu tertutup Hyukjae menyalakan mesin mobil dan membawa mereka meninggalkan tempat ini dengan diikuti beberapa mobil di belakangnya.

 

“Kau ingin makan atau minum sesuatu? Atau kau memerlukan sesuatu? Apa perutmu masih sakit?” tanya Kyuhyun yang masih khawatir.

 

“Aku hanya membutuhkanmu.” Jawab Hyowon.

 

Kyuhyun mendekatkan tubuh Hyowon padanya agar istrinya bisa bersandar pada dadanya. Ia melingkarkan tangannya di punggung istrinya dan mendekapnya sangat erat. Kemudian bibirnya mencium puncak kepala istrinya dengan penuh cinta.

 

“Maafkan aku.”

 

 

To Be Continue  . . .

Advertisements

21 thoughts on “OUR COMPLICATED MARRIAGE (CHAPTER 17)

  1. Pingback: Library | WONLOVE JAEKYU

  2. No romantic tp kok bikin baper ya!! Aduh mo komen apa ya? Keren abis soalnya thor. Kyu jahat banget sampai ngabain telp hyowon untung itu kerjaan nya baekhyun coba klo itu kerjaan soojin pasti hyowon knapa2.
    Mksh ya thor ttp semangat utk part berikutnya slalu ditunggu…..

    Like

  3. Uhhhhh untung gpp
    Aman

    Baekhyun psycho ya ????

    Berarti baekhyun bneran cm noling wktu hyowon ditusuk perutnya
    Bneran bkn dia yg nusuk
    Kirain baekhyun

    Jd msh ad lagi yg jahat
    Siapa ya
    Yg ngincar hyowon jg

    Jadiiiiii

    Like

  4. Baru sempat baca setelah like…hoho akhirnya ketahuan juga kalo itu si bae..heumm malah emosi sendiri baca ini.
    Emm..😪😪😒😭
    Ini sudah hampir dekat part end-kah? Pengen tau kelanjutan si bae gimana. Pengen nangkep aja..

    Like

  5. akhireee ketahuann jugaa kaloo slaamaa ini baekhyun ug nolongij.. malah kukiraa diaa yg buat skenario ituhh…
    hehe…
    inii kyuu mestii dehh… kokk mrekaa gk slesai2 sihh berantemnya.. hri ini hyowon.. bsok kyu.. lusaa hyowon lgi.. ealahh… kok kyk anak kecil sihh mrekaa… wkwk

    Like

  6. Ya ampun baekhyun punya kelainan jiwa dehhhh, tp untung baekhyun msh mau menurut ma hyowon. Kyu u hrs bnr2 mementingkan hyowon dr yg lain. Lw gak mw kejadian spt ini terulang lagi.

    Like

  7. Ga ngerti sm yg d pkiranny kyu, dia marah,emosi liat hyowon d peluk Baekhyun yg notabene sahabat, tp kyu sndri ga mikirin prasaan hyowon pas dia meluk soojin ‘mantan pcr’. Istri mn yg ga sedih kl suaminya msh peduli sm mntn pcr.sbnerny mslh mreka kan cm d situ2 aj,tp jd sulit Krn egois.
    Baekhyun pny gangguan psikis nih,bgs sih dia sll ngelindungi hyowon tp crny yg slh

    Like

  8. Kyu blm bisa ngilangin rasa egois sama pemarahnya. Hrsnya kyu beruntung punya istri kaya won udh sabar pake cinta lagi..kirain baek jahat. .tp siapa yg nusuk won

    Like

  9. Hahaaiii….tiap he bolak balik ke blog ini mo liat part 18 ternyata Belum update jg, author nya sibuk lagi nih kyak nya, dimaklumi….dtunggu aja….ttp semangat ya Thor mksh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s