Lee Hyuk Jae : Park Hyo Won’s Naughty Husband (Chapter 1)

naughty-husband-wonlove-jaekyu

Title : Lee Hyuk Jae : Park Hyo Won’s Naughty Husband

Author : WonA

Genre : Romance, Comedy, Married Life

Length : Chapter

Rating : PG 17

Main Casts : Lee Hyuk Jae & Park Hyo Won.

Disclaimer : This Story of Fanfiction is pure of my imagination, the casts belongs themselves, don’t copas, and don’t bash!

 

Typo is magic ~

 

Happy Reading ^^

 

Suara getar yang ditimbulkan akibat ponsel yang berdering diatas nakas disisi tempat tidur berukuran king size itu berhasil membuat seorang pria terbangun dari mimpi indahnya. Kelopak mata yang yang bergerak perlahan itu rupanya cukup terganggu dengan sinar mentari yang menerobos masuk lewat kaca jendela dengan gorden tipis transparan yang masih menutupinya.

 

Pria yang memakai piyama tidur berwarna biru dengan corak garis putih itu memposisikan tubuhnya untuk duduk kemudian menyambar ponsel yang sudah mengganggu tidurnya itu.

 

“Yeoboseyo.” Ucapnya dengan suara seraknya yang khas ketika bangun tidur itu seraya menggosok lembut matanya dengan jari-jari tangan yang satunya.

 

“Yaa! Kenapa baru menjawab sekarang? Ada pertemuan dengan perwakilan perusahaan jam tangan 30 menit lagi. Kau tidak lupa kan?”

Seseorang yang berteriak lewat telepon itu menyadarkannya dan langsung membuang ponselnya ke atas ranjang. Ia kemudian memasuki kamar mandi dengan tergesa-gesa.

“Ah Sial!”

 

Seorang perempuan yang mengenakan slip dress bermotif bunga dipadukan dengan inner berlengan panjang berwarna putih membuka sebuah pintu kamar dan memasukinya.

Baru sampai di dalam kamarnya, seorang pria menghampirinya dengan wajah yang sedikit kesal.

 

“Yaa, kenapa kau tidak membangunkanku eoh?”

Pria bernama Lee Hyuk Jae itu baru selesai memakai kaos putih dan celana denimnya. Wanita di hadapannya mendekat dan bersiap untuk memarahi pria yang merupakan suaminya itu.

 

“Mwo? Kau yang sangat sulit untuk dibangunkan, aku bahkan sampai bosan. Kau bilang nanti lima menit lagi, nanti sebentar lagi, hah! Sekarang kau kesal dan mengatakan aku tidak membangunkanmu? Menyebalkan!”

Meski ia kesal namun, gadis itu membantu Hyuk Jae memasangkan jaket kulit berwarna hitam pada tubuhnya.

 

Melihat raut kemarahan istrinya itu, nyalinya sedikit ciut. Lee Hyuk Jae mendekatkan tubuhnya dan memeluk tubuh mungil Park Hyo Won.

“Mianhaeyo, seharusnya kau membangunkanmu dengan bibirmu.” Ia menggoda istrinya dan menampakan ekspresi manjanya seraya menatap bibir istrinya dengan seduktif.

“Yaa! Tidak kah kau sudah terlambat?”

Park Hyo Won mengalihkan topik pembicaraan yang terasa cukup panas di cuaca dingin pagi ini.

“Ah benar, aku harus berangkat sekarang! Maaf lagi-lagi aku tidak bisa sarapan bersamamu.”

 

Park Hyo Won sudah sangat terbiasa dengan sikap, sifat, dan kebiasaan Pria yang sudah menjadi suaminya selama sepuluh bulan itu. Hari ini gadis itu membuatkan sandwich yang sudah disimpan di kotak makan yang akan dibawa Lee Hyuk Jae, biasanya pria itu akan memakannya di dalam mobil saat perjalanannya.

 

Supir pribadinya telah siap dan membukakan pintu untuknya, Pria itu mencium bibir istrinya sekilas kemudian melambaikan tangan masuk ke dalam mobil.

Park Hyo Won tersenyum dan detak jantung yang tidak beraturan. Entah sudah berapa kali suaminya mencium bibirnya namun perasaan gugup dengan hati yang bergetar masih ia rasakan hingga saat ini.

Jari lentiknya perlahan menyentuh bibir ceri nya dan tersenyum merasakan kebodohannya yang selalu bereaksi seperti ini setelah Lee Hyuk Jae melakukan aktivitas favoritnya itu.

“Bodoh, dasar Pria menyebalkan!”

 

Sementara itu dua orang pria sedang berada di sebuah café yang saat ini cukup sepi itu, Lee Hyuk Jae yang memakai topi dan kaca mata hitamnya ini menggerak-gerakkan jarinya menyentuh layar berukuran 5.5 inchi yang merupakan ponsel pintar miliknya.

 

“Yaa, kau hampir saja terlambat dan tidak mendapatkan kontrak iklan jam tangan itu.”

Pria tampan yang mengenakan kemeja casual berwarna coklat muda yang sangat pas ditubuhnya itu menatap tajam Lee Hyuk Jae yang masih saja sibuk dengan gadget berwarna silver miliknya.

“Sudah jangan dibahas lagi, Lee Donghae! Yang tepenting sekarang aku sudah menjadi model iklannya.” Smirk dengan ekspresi yang menyombongkan dirinya itu membuat pria yang disebut Lee Donghae itu membuang nafas kekesalannya.

 

Pria tampan ini merupakan sahabat Lee Hyuk Jae sejak masih duduk dibangku sekolah menengah, bahkan mereka masih mengikat persahabatan mereka hingga saat ini dengan Lee Donghae yang berperan sebagai manajer dan orang yang berkuasa untuk karir sahabatnya itu.

 

Saat ini Lee Hyuk Jae merupakan artis yang popular di industri hiburan korea selatan, namanya juga sudah terkenal luas di Negara-negara Asia dan beberapa Negara di Eropa dan Amerika. Pria berumur 28 tahun ini cukup bertalenta di berbagai bidang, mulai dari iklan, modeling, actor dan bahkan ia merupakan seorang penyanyi sekaligus penari yang cukup baik.

 

Fakta bahwa ia sudah menikah hanya diketahui oleh orang terdekatnya yaitu keluarga dan manajemennya. Publik benar-benar tidak mengetahui kebenaran itu, ini demi kelangsungan karirnya dan untuk melindungi privasi dan istrinya.

 

“Eoh, Lee Hyuk Jae Oppa! Benarkan?”

Seorang gadis yang mengenakan dress ketat yang hanya menutupi setengah pahanya itu menarik perhatiannya, meski dengan kaca mata hitam dan topi yang ia kenakan ternyata masih saja ada orang yang mengenalinya.

 

Lee Hyuk Jae tersenyum membalas senyuman dari gadis cantik yang terkagum  padanya, ia melihat gadis cantik itu dari kaki yang mengenakan high heels yang cukup tinggi hingga kepalanya. Matanya sempat terhenti saat menatap bagian bahu dan dadanya yang cukup terbuka itu, lehernya yang jenjang dapat dilihat dengan jelas karena rambutnya yang diikat keatas dengan model kuncir kuda.

 

“Annyeong haseyo.” Lee Hyuk Jae menyapa gadis itu dengan ramah, tidak! Bahkan sangat ramah. Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan mendapat respon yang sangat cepat dari gadis dengan lipstick merah di bibirnya senada dengan dressnya itu.

Lee Donghae hanya menatap malas tingkah Lee Hyukjae saat ini, pria itu selalu berulah di depan wanita cantik dan seksi membuatnya sangat bosan bahkan ingin sekali menendang bokong sahabatnya itu dengan sangat keras.

 

“Bolehkah aku meminta berfoto bersama?” Tanyanya sangat antusias.

“Oh tentu saja!”

***

 

Malam menjelang, langit yang berwarna menyembunyikan sinar rembulan bahkan bintang-bintang yang malam sebelumnya terlihat sangat indah itu. Udara dingin yang menusuk membuat Lee Hyuk Jae bergegas masuk ke rumahnya dengan menggosok-gosok kedua lengannya yang terbuka karena hanya memakai kaos putihnya itu.

 

Hingga sampai di sebuah ruangan dimana terdapat sofa panjang dan televisi jenis LED berukuran besar itu kakinya berhenti melihat istrinya yang sedang duduk menonton sebuah drama.

Lee Hyukjae mendekat, bermaksud ingin mengganggu acara menonton drama istrinya namun niat itu ia urungkan karena tatapan tajam Park Hyo Won pada televisi yang sedang memperlihatkan adegan komedi yang seharunya ia tertawa itu membuatnya sedikit bingung.

Apa dia tidak suka adegannya? Bukankah setiap menonton drama bergenre komedi ini ia selalu tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak?

 

Park HyoWon yang merasakan kedatangan suaminya itu hanya melirik sekilas kemudian menekan tombol off untuk mematikan alat elektronik berlayar lebar itu dan melangkahkan kakinya tanpa memperdulikan wajah suaminya yang kebingungan.

 

“Wae? Apa tokoh utamanya mati? Kau tidak menyukai acaranya?”

Teriakan Lee Hyuk Jae ia biarkan begitu saja. Kaki-kakinya bergerak melangkah menaiki anak tangga yang menuju kamar mereka berdua.  Pria itu sempat terdiam sesaat memikirkan sikap istrinya yang aneh dan tidak biasa itu, ia kemudian berjalan untuk menyusul Hyowon dengan berlari.

 

“Kau sudah mau tidur hem? Apa kau sudah makan malam?”

Pertanyaan Lee Hyuk Jae itu bukan tak beralasan, ia bingun melihat istrinya yang sudah berbaring dan menutup sebagian tubuhnya dengan selimut bahkan saat ini belum jam tidur istrinya yang sangat ia hapal itu.

 

“Hyowon-ah!” Pria itu menyebut nama istrinya karena ia diabaikan bahkan seperti tidak dianggap keberadaannya di ruangan ini.

 

“Wae?”

Park Hyo Won bingkas dari tempat tidurnya kemudian berjalan mendekati Hyuk Jae yang masih berdiri terkejut karena istrinya bertanya dengan nada marah dan mata yang penuh dengan amarah.

“Ige mwoya?”

Gadis itu menunjukan ponselnya dengan layar yang menampilkan gambar dirinya bersama seorang perempuan yang bertemu dengannya tadi siang di café bersama Lee Donghae.

 

“Itu . . .”

 

“Mwo?”

 

“Dia hanya seorang penggemar, sayang!” Lee Hyuk Jae mencoba meredakan kemarahan istrinya namun gagal, raut kecemasan sekaligus rasa gugup yang tergambar  di wajahnya itu membuat Hyowon semakin mencurigai dirinya.

 

Ia menggeserkan layar ponselnya untuk menunjukan beberapa foto kebersamaan suaminya dengan wanita lain itu dengan tatapan emosi. Sementara Lee HyukJae hanya mampu menggigit bibir bawahnya dan mendesah frustasi. Bagaimana bisa istrinya mendapat foto-foto itu? Apa gadis sexy itu menguploadnya ke SNS?

 

“Jika kau hanya berfoto dengannya aku bisa memakluminya, bahkan kau sering melakukannya. Tapi . . .”

Hyowon sengaja menganggantungkan kalimatnya dan mengepalkan tangannya sangat kuat hingga Lee Hyukjae bergidig ngeri melihatnya.

“Tapi kau bahkan malam bersama wanita itu!” gadis itu mengatakannya dengan sangat berat dan penuh penekanan. Sementara suaminya mencoba menyentuh lengannya yang ia tepis itu.

“Hyo, dia itu anak dari Yoon PD-nim, PD dramaku sebelumnya. Jangan salah paham dulu eoh? Dia penggemarku dan mengajakku untuk makan malam bersamanya, jadi-“

 

Ucapannya tidak bisa ia lanjutkan karena Hyowon dengan cepat menyergahnya.

 

“Jadi jika seorang penggemar dan anak dari PD itu harus makan malam bersamamu, Daebak! Bukankah dia tipe wanita idealmu, huh? Kau pasti sangat tertarik dengan lingkar pinggang dan ukuran dadanya kan?”

 

“Tentu saja tidak!”

 

Hyowon masih mencurigai suaminya, ia dapat meyakini bahwa kali ini suaminya itu sedang berbohong padanya. Jelas-jelas gadis itu benar-benar masuk ke dalam kriteria tipe idealnya.

“Dia gadis yang seksi kan?”

“A-aniyo!”

“Yaa Lee Hyuk Jae! Semakin kau berbohong padaku, semakin aku tidak ingin melihat wajahmu.”

 

“Ya, dia gadis yang seksi.” Lee Hyuk Jae menundukan wajahnya dan benar-benar tak perdaya saat ini. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Istrinya benar-benar marah padanya. Bodohnya dirimu Lee Hyuk Jae!

 

Park Hyo Won menepis jarak diantara mereka berdua dengan berjalan menghampiri suaminya. Senyum dari bibir Lee Hyuk Jae seketika tercipta melihat Hyowon yang sekarang berada di hadapannya yang sedang menatapnya meski masih dengan tatapan yang tidak melembut itu.

 

Mata gadis itu menyusuri setiap lekuk leher suaminya yang sangat seksi dan indah itu, rahang tegasnya bahkan begitu sempurna.

“Sayang . . .”

Lee Hyuk Jae sedikit berdebar melihat Hyowon yang menatap bagian tubuhnya dengan sangat intens itu.

 

“Aku hanya sedang memeriksa, apakah gadis itu meninggalkan kiss mark ditubuhmu?”

 

“Yaa! Apa yang kau katakan huh?” Lee Hyukjae meninggikan nada bicaranya sedikit emosi dengan kecurigaan istrinya yang menurutnya sangat berlebihan itu namun tidak dapat ia pungkiri ada rasa ketakutan yang menyelimuti hatinya.

 

Park Hyowon tersenyum jahat dengan mata yang masih memicing dengan tajam itu.

“Ah aku lupa, jadi kau yang membuat kissmark di tubuhnya eoh?”

 

“Yaa Lee Hyowon!!! Apa kau sudah gila? Tentu saja tidak! Aku tidak akan pernah melakukannya pada siapapun kecuali istriku!”  Hyuk jae membantah dengan tegas apa yang istrinya tuduhkan padanya.

 

“Cih! Lalu dimana jaketmu?”

Pria itu menelan salivanya dengan sangat sulit, kenapa istrinya menanyakan jaketnya? Itu bahkan tidak penting, apa yang harus ia jawab? Ia hanya diam menatap penuh ampun pada Hyowon.

 

Akhirnya dengan sekuat tenaga dan kepasrahan hatinya, ia membuka mulutnya.

“Aku meminjamkannya.”

 

Jawaban singkat itu benar-benar menusuk hatinya, Lee Hyuk Jae apa maumu? Kenapa kau selalu melukai hatinya?

“Kau memang pria baik Tuan Lee, kau pasti tidak tega melihatnya kedinginan maka kau meminjamkan jaketmu untuknya, atau mungkin kau tidak ingin para pria melihat tubuh bagian atasnya terbuka. Kau memang pria sejati.”

 

“Benar-benar pria sejati. Seorang wanita yang memasangkan jaket untuk suaminya, namun suaminya yang merupakan pria sejati itu melepasnya hanya untuk memakaikan jaketnya pada wanita lain. Daebak!!!”

 

Pujian yang bermakna ejekan itu membuat tubuhnya lemas, ingin sekali ia menjatuhkan tubuhnya ke permukaan lantai yang dilapisi karpet beludru yang sedang mereka pijaki itu.

 

“Bukan dia yang menggodamu!”

 

“Akupun tidak menggodanya, Hyo!” kali ini Lee Hyuk Jae berhasil meraih tangan istrinya dan menggenggam sangat erat.

 

“Aku tahu, kau tidak menggodanya.” Pria itu menganggukan kepalanya dengan lemah.

 

“Tapi Kalian berdua sama-sama menggoda dan tergoda satu sama lain.”

Dengan kekuatan penuh, Hyowon melepaskan pegangan tangan Lee Hyuk Jae dan berjalan keluar dari ruangan yang terasa sangat sesak baginya.

Air matanya meluncur dengan cepat membasahi pipi yang memerah karena kemarahannya, darahnya seolah mendidih dan ia tak mampu lagi untuk tidak menangis karena memang begitu sesak dan perih di dalam hatinya.

Bagaimana bisa suaminya mengulangi kesalahannya berulang kali? Ini memang bukan kali pertama prianya kencan dengan wanita lain, namun tetap saja seorang istri yang memiliki cinta dan hati hanya suaminya itu merasakan sakit yang bahkan terasa lebih sakit dari sebelumnya.

 

Mereka bahkan menjalani pernikahan ini belum genap satu tahun, apa yang ada dipikiran Lee Hyuk Jae? Secepat itukah rasa bosan datang padanya? Apakah Hyowon tidak berarti bahkan tidak menarik baginya? Haruskah ia melakukannya?

 

Hyowon selalu merutuki kebodohannya yang selalu saja menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu dalam hatinya, meski mereka kerap bertengkar namun pertanyaan tentang kelayakan dirinya untuk menjadi wanita Lee Hyukjae itu tidak pernah ia lontarkan.

Gadis itu merasa tidak layak dalam hatinya, namun di depan suaminya ia akan selalu bersikap tegar dan menjadi pemilik satu-satunya hati Lee Hyuk Jae.

 

Kedua tangan besar itu memeluk tubuhnya. Pelukan dari belakang yang sangat ingin ia tolak itu terlalu erat membuatnya pasrah dan dengan menahan isakan yang keluar dari mulutnya.

“Mianhaeyo” suara lembut penuh penyesalan itu berbisik di dekat telingan kanannya.

 

Lee Hyuk Jae mendekap begitu erat seolah menginginkan agar istrinya tetap disini, bersamanya dalam pelukannya.  Tangannya menyentuh kedua bahu Hyowon dan menarik tubuh mungil itu untuk mengarah padanya.

 

Betapa hatinya sakit melihat kedua mata indah itu mengeluarkan air mata karena dirinya. Dengan lembut jari-jarinya menyeka air mata yang sudah sangat membasahi pipi istrinya. Gadis itu hanya terdiam mendapat perlakuan manis yang merupakan rasa penyesalannya padanya. Ia bahkan tidak mampu hanya untuk sekedar menatap wajah sendu Lee Hyukjae saat ini. gadis itu masih merasakan sakit di hatinya dan kemarahan yang tidak mudah untuk hilang hanya dengan perlakuan seperti itu.

 

Hyowon melepaskan tangan Lee Hyukjae yang hendak membawanya ke pelukan pria itu, ia berjalan meninggalkan Lee Hyukjae yang merasakan kesedihan dan penyesalannya di ruang makan. Pria itu menyadari akan sesuatu hal. Gadisnya telah menyiapkan makan malam untuknya, ia mengetahui itu karena di atas meja makan besar itu telah tersaji hidangan makan malam untuk mereka. Dan Hyowon pasti belum makan.

 

Segera Lee Hyukjae menyusul istrinya yang kembali ke kamarnya.

 

“Ayo kita makan makan malam, kau pasti belum makan. Aku tidak bisa membiarkanmu tidak makan, aku tidak mau kau sakit!”

 

Pria itu duduk di sisi tempat tidur dan mengusap lembut bahu istrinya yang membaringkan tubuhnya membelakangi dirinya.

“Shiro, aku tidak mau makan. Jangan memakasaku, jangan membuatku semakin menghindarimu!”

 

“Geurae, aku tidak akan memaksamu. Besok pagi kau harus makan eoh? Sekarang kita tidur saja, Jaljayeo!”

Seolah melupakan kesalahan dan penyesalannya pria itu membaringkan tubuhnya disamping istrinya dan mengecup kepala gadis yang sangat ia sayangi itu cukup lama.

Lee Hyukjae menarik selimut itu dan menepuk-nepuk lembut bahu Hyowon, kebiasaannya yang selalu ia lakukan sebelum tidur hanya untuk membuat gadisnya ini tertidur dengan mudah.

 

 

Park Hyo Won’s Pov

 

Tubuhku terasa sangat berat dan tak mampu menggerakkannya dengan bebas membuatku terbangun dari mimpi yang entah seperti apa, aku tidak mengingat mimpiku semalam. Kelopak mata ini mengerjap beberapa kali hingga terbuka sempurna, akan tetapi aku tidak bisa melihat suasana ruang kamarku. Pemandangan pertama yang kulihat adalah . . . dada bidang yang terbungkus kaos putih itu dan leher yang sedikit berkeringat. Oh! Kesadaranku sudah terkumpul seluruhnya, aku sedang dalam dekapan Lee Hyuk Jae, suami menyebalkan  yang kumiliki.

 

Rupanya selama tidur dia tidak melepaskan pelukannya, aku memang selalu merasa nyaman saat tidur dalam dekapannya. Ingin rasanya berlama-lama dengan posisi seperti ini, namun mengingat apa yang dilakukan pria yang suka tebar pesona ini kemarin membuatku bangun dengan perlahan. Ya, hati kecilku pastinya sangat memperhatikan dan memikirkannya. Aku tidak akan mengganggu tidurnya meskipun dia selalu mengganggu hati dan pikiranku.

 

Membiarkannya untuk lebih lama menikmati tidurnya, aku berjalan menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci wajah dan menggosok gigiku.

Setelah itu aku sudah siap dengan peralatan dapur yang akan mendampingiku memasak sarapan untuk kami, hari ini ada jadwal kuliah pagi untuk itu aku mempersiapkan semuanya mulai dari sekarang, ada waktu dua jam sebelum aku berangkat.

 

Sempat menatap wajahku di cermin tadi, aku teringat bahwa air mataku jatuh cukup lama. Anggaplah aku gadis yang cengeng, memang faktanya seperti itu. Pria menyebalkan itu bertambah menyebalkan jika bertemu seorang wanita. Aku sampai gila dibuatnya, dia benar-benar selalu memanfaatkan kesempatannya dengan baik. Lee Hyuk Jae bodoh!

 

Aku sudah menyiapkan sarapan dan mencuci semua peralatan masak, sekarang tubuh ini harus melakukan urusannya sendiri.

Keluar dari kamar mandi dengan rambut basahku yang digelung keatas menggunakan handuk kecil berwarna putih dan mengenakan handuk mandi yang menutupi tubuhku hingga sebatas lutut itu aku berjalan mendekat ke meja rias, rasanya tubuh ini benar-benar segar! Beban dan amarah yang membara semakin mendingin dan terasa lebih ringan.

 

Nyatanya aku selalu mampu melalui kesedihan akibat hati yang terluka oleh pria yang menjadi suamiku itu. Perasaan cinta dan rindu lebih dalam dari apapun, mengkhawatirkannya dan memperhatikannya selalu menjadi bayangan jika aku ingin membalas dendam untuk melukainya. Aku bahkan tidak bisa berpikir logis dan selalu bertindak bodoh.

 

Sesuatu mengejutkanku yang sedang menatap kosong cermin yang memperlihatkan pantulan diriku. Pria yang selalu kupikirkan ini memelukku dari belakang dan menaruh wajahnya di belakang leherku. Astaga! Hatiku selalu bergetar dibuatnya.

 

“Kau sudah mandi hem . . . kau tidak mengajakku mandi bersama?”

Lee Hyuk Jae bergumam dengan nafas yang menerpa kulitku.

Sebelum ia melakukan hal yang lebih lagi, aku bangkit dan menatapnya dengan tajam.

“Wah, kau bertingkah seperti tak berdosa eoh?”

Dia hanya menundukan wajahnya, kemudian mengerucutkan bibirnya menampilkan aegyo yang selalu menjadi senjatanya untuk mengalahkan kemarahanku.

Tidak bisa Lee Hyuk Jae!

Aku tidak akan memaafkanmu dengan mudah kali ini.

 

“Cepat mandi dan habiskan sarapanmu, aku ada jadwal pagi dan buru-buru.”

“Tapi kita harus sarapan bersama Hyo.”

“Shireo! Sarapan saja dengan anak PD itu!”

“Yaa! Jangan membahasnya lagi. Aku hanya ingin sarapan bersamamu!”

“Shireo!!!”

 

Perdebatan kami diakhiri dengan aku melangkahkan kakiku menuju lemari untuk berganti baju. Pria itu masih memandangku dengan wajah frustasi, namun tatapan sadisku mengisyaratkan untuk ia segera ke kamar mandi itu membuatnya meleleh dan melangkahkan kakinya dengan lemah dan mendengus kesal.

 

Aku hanya menggelengkan kepalaku dan melanjutkan aktivitasku.

 

Sudah selesai dengan semua persiapanku, aku bersiap untuk melangkah keluar.

Tapi dering ponsel milik Lee Hyuk Jae itu menghentikan kakiku yang sudah sangat siap melangkah. Dia baru masuk ke kamar mandi selama 10 menit, pria itu akan menghabiskan waktu mandinya 20 menit jika sedang santai.

Aku tidak bisa membiarkannya  begitu saja, segera kusambar ponselnya yang tergeletak diatas nakas dan menekan tombol hijau untuk menjawab panggilannya.

 

“yeoboseyo . . . Hyuk Jae Oppa kau akan datang ke pesta ulang tahunku kan?”

Suara lembut yang sudah dipastikan seorang wanita itu membuatku tertahan hanya untuk mengatakan “Hallo”

Nada manjanya itu membuatku sedikit geram, namun rasa penasaran membuatku hanya terdiam ingin tahu apa saja yang akan dikatakan wanita itu.

 

“Pestanya bersifat privat, kau akan menyukainya. Datanglah!”

 

 

To Be Continue . . .

 

 

 

 

Advertisements

One thought on “Lee Hyuk Jae : Park Hyo Won’s Naughty Husband (Chapter 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s